Pages

Minggu, 11 Agustus 2013

Satu Korban DUKUN PENGGANDA UANG Muhyahro, Asal Temanggung



TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Satu lagi korban dukun pengganda uang Muhyahro, dikenali oleh keluarganya. Identitas korban bernama Nurodin (49), asal Temanggung. Menurut keterangan adik ipar korban Nur Subarkah (39), Nurodin sebenarnya kelahiran Mandisari, Kecamatan Parakan. Namun, ia kemudian menikah dengan Sofiatun (41), warga Dusun Janggar, Desa Gedongsari, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung.

Nurodin adalah alumni SMA 1 Temanggung, dan IKIP Semarang dan menjadi guru di SMP 1 Pagentan, Banjarnegara ini dikabarkan hilang sejak 28 Desember 2011. Nurodin sudah 20-an tahun menjadi guru PNS di SMP 1 Pagentan. Ia dan istrinya pun selama ini tinggal di rumah dinas sekolah tersebut.
"Berdasarkan keterangan Sofiyatun, suaminya kali terakhir pergi bersama Sunaryo sesama guru warga Kroya. Mereka naik bus ke arah Magelang,"katanya Kamis (1/8) malam.

Sofiyatun pun membenarkan kepergiannya bersama Sunaryo membawa uang sebesar Rp 150juta dan akan digandakan kepada seorang dukun. Tapi keduanya tidak menyebut nama Muhyahro, melainkan Mbah No. Hilangnya, Nurodin sudah dilaporkan ke Polsek Pagentan setelah 10 hari korban pergi meninggalkan rumah dan tak kunjung pulang. Usaha pencarian pun sudah dilakukan kemana-mana, tapi hasilnya nihil. Keluarga Nurodin, pun penasaran saat media memberitakan tentang dukun Muhyahro yang telah membunuh beberapa korbannya di Petung, Windusari, Kabupaten Magelang.

Keluarga lantas mengecek kebenaran kabar itu ke Mapolda Jateng pada Selasa (30/7), untuk mencari tahu pakah korban tanpa identitas yang ditemukan adalah Nurodin. Keluarga meyakini bahwa jenazah yang sudah tidak utuh itu adalah Nurodin, setelah melihat ciri-ciri fisik dan pakian yang dikenakan korban.
"Saya yakin itu jenazah Nurodin, sebab dari ciri fisik saya hafal gigi kanan atas ompong, perawakan gendut. Pakaiannya juga masih dapat dikenali, yakni celana jeans warna biru, jaket warna biru, dan celana dalam merek Hings warna putih,"terangnya.

Desi (18) anak bungsu korban mengaku kali terakhir bertemu dengan ayahnya Rabu 28 Desember 2011. Kala itu ayahnya berpamitan hanya satu malam ke Magelang. Ayahnya kali terakhir menelpon Desi Kamis 29 Dember sore, menanyakan keberadaan Sofiyatun. Korban mengaku posisi berada di Alun-alun Magelang, setelah itu sudah hilang kontak.

( Raditia Yoni Ariya / CN34 / SMNetwork )

Tidak ada komentar: